Pusat Kendali Kehidupan
Kalau hidup ini diibaratkan sebuah kendaraan, hati adalah ruang kemudinya. Yang memegang setir bukan kaki, bukan tangan, apalagi dompet. Semuanya berawal dari sana: hati.
Makanya,
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa di dalam tubuh
manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia
rusak, rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Sering
kali kita sibuk membenahi yang tampak di luar. Ingin lebih produktif, lebih
disiplin, lebih bermanfaat, lebih tenang. Semua itu baik. Namun, kadang kita
lupa memeriksa pusat kendalinya. Jangan-jangan yang lelah bukan badan,
melainkan hati yang terlalu lama dibiarkan berjalan tanpa perawatan.
Padahal,
ketika hati mulai membaik, banyak urusan terasa lebih ringan. Waktu tidak mudah
habis untuk hal-hal yang sia-sia. Tenaga tidak cepat terkuras oleh perkara yang
sebenarnya tidak perlu. Bahkan amal-amal sederhana pun bisa terasa lebih
bermakna, apalagi pada waktu-waktu istimewa yang Allah lipatgandakan pahalanya.
Lalu,
apa obat terbaik untuk hati?
Allah
tidak membiarkan manusia mencari jawabannya sendiri. Dia menurunkan Al-Qur'an
sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, sekaligus penyembuh. Di sanalah hati menemukan
arah pulang. Di sanalah kegelisahan perlahan belajar menjadi tenang.
Karena
itu, kedekatan dengan Al-Qur'an bukan sekadar soal berapa banyak halaman yang
selesai dibaca. Yang lebih penting adalah bagaimana ayat-ayat itu benar-benar
singgah di hati. Dibaca dengan adab, dipelajari dengan ilmu, lalu diusahakan
untuk diamalkan sedikit demi sedikit.
Sebab,
hati yang hidup bukanlah hati yang paling banyak tahu, melainkan hati yang
terus mau menerima petunjuk dan mengingat Allah. Ketika hati hidup, insyaallah,
kehidupan di sekitarnya pun ikut menemukan keberkahannya.
Join the conversation