Runtuh Sebelum Musuh Datang
Kalau ada satu kebiasaan yang sulit dihilangkan dari manusia, itu adalah mencari kambing hitam. Ketika sesuatu yang besar runtuh, kita selalu merasa harus ada satu pelaku utama yang bertanggung jawab. Dalam sejarah peradaban Islam, nama yang paling sering disebut adalah Perang Salib, invasi Mongol, dan kolonialisme Barat. Ketiganya memang meninggalkan luka yang dalam. Namun, benarkah sebuah peradaban yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad bisa roboh hanya karena serangan dari luar?
Sejarah
menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu. Musuh dari luar memang
dapat menghancurkan kota, membakar perpustakaan, bahkan mengakhiri sebuah
dinasti. Akan tetapi, mereka tidak selalu mampu menghancurkan sebuah peradaban
yang fondasinya masih kuat. Bangunan hanya mudah roboh jika tiang-tiang
penyangganya telah rapuh lebih dahulu.
Pada masa
keemasannya, dunia Islam bukan hanya dikenal karena luas wilayahnya, tetapi
juga karena kekuatan ilmu pengetahuan. Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Cordoba
menjadi pusat lahirnya ilmuwan, dokter, matematikawan, filsuf, dan astronom.
Tradisi membaca, menulis, menerjemahkan, dan berdiskusi menjadi denyut
kehidupan masyarakat. Ilmu bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang
menopang kemajuan politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Kemudian
keadaan berubah. Perang Salib menguras energi politik dan militer. Invasi
Mongol menghancurkan Baghdad, memutus jaringan keilmuan, dan memaksa banyak
ulama meninggalkan pusat-pusat ilmu. Di sisi lain, bangsa-bangsa Eropa mulai
menguasai jalur perdagangan dunia melalui kemajuan teknologi pelayaran.
Pergeseran ini membuat posisi strategis dunia Islam dalam ekonomi global
perlahan melemah.
Namun,
faktor eksternal hanyalah satu sisi dari cerita. Pemikir besar seperti Ibnu
Khaldun justru mengingatkan bahwa keruntuhan sebuah peradaban lebih sering
diawali oleh persoalan internal. Dalam Muqaddimah, ia menggambarkan
bagaimana kemunduran dimulai ketika moral masyarakat melemah, keadilan tidak
lagi ditegakkan, dan para penguasa lebih sibuk mengejar kemewahan daripada
mengurus kepentingan rakyat.
Yang
menarik, analisis Ibnu Khaldun tidak berhenti pada persoalan politik. Ia juga
menyoroti perubahan orientasi masyarakat. Ketika mencari kekayaan menjadi
tujuan utama, sementara ilmu pengetahuan kehilangan kedudukannya, sebuah
peradaban perlahan kehilangan kemampuan untuk berkembang. Masyarakat mungkin
tetap terlihat makmur, tetapi sesungguhnya sedang kehilangan daya hidupnya.
Sulit untuk
tidak melihat relevansi pemikiran itu dengan kondisi saat ini. Kita hidup di
zaman ketika akses terhadap informasi begitu mudah, tetapi minat membaca justru
menurun. Pendidikan sering dipahami sebagai jalan memperoleh pekerjaan, bukan
sebagai proses membangun peradaban. Jabatan publik tidak jarang diperlakukan
sebagai investasi yang harus menghasilkan keuntungan, bukan amanah yang harus
dipertanggungjawabkan.
Tentu,
setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda. Dunia hari ini tidak lagi
ditentukan oleh kekuatan pasukan berkuda atau benteng pertahanan. Persaingan
berlangsung melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan
kualitas sumber daya manusia. Namun, prinsip dasarnya tetap sama. Bangsa yang
mengabaikan ilmu, membiarkan korupsi tumbuh, dan kehilangan kepercayaan
terhadap hukum pada akhirnya akan sulit mempertahankan daya saingnya.
Karena itu,
mempelajari keruntuhan peradaban Islam semestinya tidak berhenti pada upaya
mencari siapa yang paling bersalah dalam sejarah. Jauh lebih penting adalah
bertanya apakah gejala-gejala yang pernah melemahkan peradaban itu juga mulai
tampak dalam kehidupan kita hari ini. Sebab, sejarah tidak hanya mencatat
kemenangan dan kekalahan. Sejarah juga memberi peringatan bahwa kejayaan tidak
pernah diwariskan begitu saja.
Pada
akhirnya, sebuah peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah sedikit
demi sedikit ketika ilmu kehilangan martabatnya, keadilan mulai diperdagangkan,
dan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama. Sebaliknya,
kebangkitan juga tidak lahir dari slogan atau nostalgia, melainkan dari
kesediaan sebuah masyarakat untuk kembali menempatkan ilmu, integritas, dan
keadilan sebagai fondasi utama. Di situlah sejarah menemukan maknanya: bukan
untuk dikenang semata, tetapi untuk menjadi pelajaran bagi masa depan. (WS)
Comments
Post a Comment