Cara Nyata Membangun Peradaban
Kita tarik mundur dulu ke zaman dulu, saat Islam baru muncul. Sejarah mencatat, Al-Qur'an pada masa itu tidak cuma sekadar dihafalkan untuk rutinitas semata. Rasulullah itu menjelaskan isi wahyu, sekaligus mengajak para sahabat untuk langsung praktik. Kesan para sahabat soal proses belajar ini luar biasa berkesan. Ada satu riwayat yang intinya bilang begini: "Kami di zaman Nabi tidak akan berani melewati satu surah pun kecuali kami sudah hafal dan mengamalkannya."
Jadi, hafal dan praktik itu satu kesatuan yang tidak bisa
dipisah. Ilmu dapat, amal jalan. Tentu tidak semua surah isinya perintah amal
fisik, tapi minimal ada instruksi yang memaksa kita untuk berpikir keras.
Fakta di atas ini ternyata bikin para orientalis (peneliti
dari Barat) penasaran bukan main. Mereka mencari tahu, rahasia majunya
peradaban Islam itu letaknya di mana? Salah seorang orientalis kemudian
mencatat sebuah kesimpulan yang lumayan mencengangkan:
Di zaman dulu, hafal Qur'an saja itu tidak otomatis membuat
orang disebut "terpelajar". Kenapa? Karena hafal Qur'an itu standar
dasar, alias hal yang sangat lumrah. Sebaliknya, mustahil ada orang terpelajar
tanpa bekal hafalan Qur'an. Semua ulama dan ilmuwan kelas atas zaman dulu,
entah dia jago matematika, fisika, biologi, astronomi, sampai filsafat,
semuanya sudah tamat dan hafal Qur'an lebih dulu. Al-Qur'an benar-benar menjadi
pendamping setia perjalanan keilmuan mereka.
Nah, pola pikir ulama terdahulu inilah yang ingin kita tiru
dan terapkan ke anak-anak zaman sekarang. Setelah program hafalan selesai,
harus ada program lanjutan: ceramah menggunakan dalil hafalan.
Harapannya begini, anak-anak kita apa pun jurusan kuliahnya,
ketika membuka mulut idealnya langsung keluar ayat-ayat Qur'an yang nyambung
dengan ilmu yang mereka pelajari.
Anak Ilmu Komunikasi, misalnya. Saat sedang diskusi soal
berita bohong (hoaks), otomatis otaknya mengingat ayat pelarangan prasangka dan
gunjingan: "ya ayyuhalladzina amanu ijtanibu katsiran
minadz-dzann... wala tajassasu..." Nah, larangan menyebar kabar
bohong dan mencari-cari kesalahan itu ada dalilnya!
Saat bertemu orang pelit, otomatis keluar ayat: "in
ahsantum ahsantum lianfusikum..." (kalau berbuat baik, ya
kebaikannya kembali untuk dirimu sendiri).
Intinya, ayat itu harus selalu siap sedia di kepala dan
refleks diucapkan saat kita menghadapi situasi apa pun. Jangan main-main kalau
sedang diskusi ilmu.
Mari kita kilas balik lagi ke momen ketika tentara Islam
meluas keluar dari Jazirah Arab menuju Persia, Mesir, sampai ke Spanyol. Ada
satu kesimpulan menarik lagi soal ini.
Begini, tidak terbayang kan tentara Islam keluar wilayah itu
tanpa membawa modal budaya Arab sama sekali. Budaya Arabnya ditinggal. Yang
mereka bawa murni hanya Al-Qur'an dan Hadis. Di zaman itu kitab tafsir belum
bertebaran, ilmu fikih juga belum rumit seperti sekarang. Rujukannya sangat
sederhana: Qur'an-Hadis, Qur'an-Hadis.
Namun, karena pergerakan dan daya gugah di dalam Al-Qur'an
ini luar biasa, pada akhirnya wahyu ini sukses berubah menjadi sebuah pandangan
hidup. Hanya bermodal itu saja, Islam tumbuh subur di negeri-negeri yang
didatangi. Masuk ke Baghdad, meledak menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan
paling hebat. Masuk ke Spanyol, tata letak kota dan sistem sanitasinya
(kebersihannya) menjadi yang paling canggih, tidak ada tandingannya di masa
itu.
Kenapa bisa begitu? Ya karena terinspirasi Qur'an dan Hadis.
Padahal di tempat-tempat itu sebelumnya sudah ada manusia-manusia berperadaban
maju. Tapi kenapa mereka tidak terpikir membuat peradaban sehebat yang dibuat
umat Islam?
Kasus filsafat Yunani bisa jadi bukti paling kuat. Dulu,
naskah filsafat Yunani banyak dipegang dan diterjemahkan ke bahasa Syriak (ini
merujuk ke Kristen Ortodoks zaman dulu, bukan negara Suriah modern).
Pertanyaannya: Kenapa saat naskah itu ada di tangan bangsa
Syriak, ilmu filsafat tersebut tidak maju? Tapi giliran diterjemahkan dari
bahasa Syriak (atau langsung dari Yunani) ke bahasa Arab, pembahasannya
mendadak jadi sangat kaya dan tidak lagi terbelenggu oleh aturan kuno filsafat
Yunani?
Rahasianya ada di pikiran orang-orangnya. Pandangan hidup
bangsa Arab Muslim kala itu sudah dicerahkan lebih dulu oleh Al-Qur'an. Jadi
saat mendapat ilmu dari peradaban lain, pikiran mereka sudah pintar
mengolahnya. Minimal, ilmu dari Yunani itu bisa diubah menjadi bernapas Islam.
Makanya, seorang pemikir bernama Neller sampai menyatakan:
dengan menjadikan Qur'an dan Hadis sebagai pandangan hidup, peradaban Islam itu
sukses "memberi makan" dan memberi manfaat besar bagi
peradaban-peradaban lain yang disinggahinya.
Perumpamaan peradaban ini persis seperti Surah Ibrahim ayat
24-25 soal kalimatun thayyibah (kalimat tauhid yang menjadi
inti ajaran Qur'an). Di situ Allah membuat kiasan yang sangat indah.
Peradaban Islam itu diibaratkan seperti pohon yang baik.
Akarnya menancap sangat kuat, tidak akan tercabut oleh kondisi cuaca seburuk
apa pun, sementara dahannya menjulang tinggi sampai ke langit. Tidak ada kan
pohon sehebat itu? Artinya, pencapaian umat Islam di bidang sains, teknologi,
dan pemikiran itu belum pernah bisa disamai oleh bangsa lain.
Intinya, kedatangan Islam itu membawa berkah. Beda jauh
dengan peradaban Barat modern, yang kemajuannya kadang justru dipakai untuk
menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Kalau Islam, ilmunya membawa
kesejahteraan. Rakyatnya makmur, penghasilannya tinggi, dan ilmu pengetahuan
menjadi tolak ukur mutlak kemajuannya.
Tentu saja, selalu ada orang-orang berpandangan sekuler
(memisahkan agama dari kehidupan) yang hobi mencibir. Mereka suka bertanya
dengan nada meremehkan: "Halah, zaman kejayaan Islam juga banyak
orang miskin. Jayanya di sebelah mana? Tuh, pemimpinnya juga ada yang hobi
mabuk-mabukan!"
Tolong dicatat baik-baik:
Kejayaan Islam itu tidak pernah diukur dari politik atau kelakuan segelintir pejabatnya. Kejayaan Islam itu murni diukur dari kemajuan ilmu pengetahuan.
Maka, kalau hari ini kita mau membangun peradaban, jalurnya
bukan lewat gontok-gontokan urusan politik. Kita harus bangun peradaban ini
lewat jalur pendidikan dan ilmu pengetahuan!
Ingat kelanjutan ayat tentang pohon tadi: "Tu'ti
ukulaha kulla hiinin bi'idzni rabbiha..." Pohon itu akan terus
memberi buah (manfaat) pada setiap masanya dengan izin Tuhannya. Ya, semua
pencapaian luar biasa di Spanyol, Mesir, Persia, India, sampai ke Nusantara
ini... pada akhirnya memang bisa terjadi murni karena rida dan izin Allah semata.
.png)
Join the conversation