Prioritas merupakan sebuah unsur
keharusan di dalam setiap lini kehidupan. Tapi, apakah kita pernah bertanya
dalam hati kita “Apa yang harus saya prioritaskan dalam beragama?”. Tentunya
sebagai seorang muslim kita wajib tahu prioritas dalam agama kita, jika tidak
mengetahui prioritas, maka kita akan memiliki kebingungan dalam beramal.
Setidaknya ada 5 unsur prioritas
dalam agama islam.
Yang pertama,
alimanu billahi (Beriman kepada Allah).
Salah satu cara menambah keimanan
kita adalah dengan wirid dan dzikir.
Yang
kedua, shalat pada waktunya.
Yang
ketiga, birrul walidain (Berbakti kepada kedua orang tua).
Yang
keempat, aljihadu fii sabiilillah (Berjihad di jalan Allah).
Dalam konteks jihad banyak
ragamnya, kita bisa berjihad dengan kekuatan raga seperti TNI, Polisi dan
militer lainnya. Berjihad dengan harta untuk memajukan Indonesia. Intinya musuh
tidak berani datang sudah termasuk jihad.
Yang
kelima, Haji mabrur (Tidak ada balasannya kecuali surga).
Kita bercita-cita untuk haji dan
umrah merupakan suatu hal prioritas dalam beragama.
Jika hubungan antara kita dan
Allah baik dengan beriman dan shalat tepat pada waktuya, pasti semua urusan
kita lancar. Jika hubungan kita dengan orang tua baik, pasti semua urusan kita
lancar. Jihad di jalan Allah merupakan bentuk keamanan, karena inti jihad itu
sendiri supaya kita aman. Kemudian haji mabrur adalah simbol dari ekonomi.
Coba perhatikan.
Yang pertama ilmu dan wirid, yang
kedua sosial lambangnya orang tua, yang ketiga jihad lambangnya keamanan dan
pemerintahan, yang terakhir haji mabrur lambang dari tatanan ekonomi.
Kalau kita sudah mengetahui
prioritas dalam agama islam, maka kita sudah punya rasa dan agenda dalam
beramal untuk mencapai semua prioritas tersebut. Selalu kita harus
menggabungkan antara ilmu dan iman, shalat tepat waktu, berbakti kepada orang
tua, jihad di jalan Allah dan haji mabrur.
Wallahua’lam.
__________
Berfaedah dari Kiai Syihabuddin
Abdul Muiz.
Prioritas
amal diatas bersumber dari hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam kitabnya dengan nomor hadits 496.

1 Comments
Masyaallah
ReplyDelete