Batang Asam Jawa Itu






Memori ini kupersembahkan untuk teman-teman SD ku yang telah duluan menjejaki telapak kaki mengadu nasib kenegeri orang. Mungkin jalur hidup kita berbeda, tapi ingat, kita pernah melewati masa indah bersama. Bercanda, tertawa, semua pernah kita lewati bersama. Salam hangat untuk sahabat-sahabatku. Walaupun hanya mampu mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar, janganlah berputus asa. Faktor ekonomi dan konflik berkepanjangan yang mengharuskan kita demikian. Mudah-mudahan kita dipertemukan kembali kawan!.

Disuatu siang tahun 1997, aku berjalan di pinggir sawah disebuah desa tempat aku dilahirkan. Hari-hariku terkadang sering kujalani sendirian, bukannya aku malas berkawan, tapi terkadang ada waktu-waktu tertentu kebanyakan dari kawan-kawan kecilku tidak bisa bersama, karena kita beda desa. Hobiku menghayal, mengamati, menyelediki apa saja yang kulihat. Dan itu semua wajar bagi anak usia 7 tahun bukan?



Aku terus menyusuri pinggiran sawah, melewati ilalang, bersenda gurau dengan kambing-kambing tetanggaku yang sedang asyik merumput. Aku keseringan berjalan tanpa alas kaki, aku tidak pernah tau mengapa kaki ku tak pernah sakit tertusuk sesuatu bila ku berjalan. Terkadang runcingnya dahan-dahan bambu yang menutupi jalan setapak pinggiran sawah seakan tumpukan kapas yang kulewati begitu saja. Mungkin sebelum lahir, aku diberi jamu kebal oleh orang tuaku.

Matahari sudah tampak condong kebarat, suasana yang selalu saja sama dari sore-sore sebelumnya, kebosanan menyelimuti hatiku. Aku duduk dan mengamati sawah yang terbentang luas. Dikejauhan tampak sekolahku yang beratap merah, taukah anda kenapa berwarna merah kawan? Menurut cerita orang kampungku, genteng itu warisan Kompeni . Pantulan karat yang diterpa sinar matahari seakan-akan genteng sekolahku terbuat dari logam mulia.


Sekolahku tampak jelas bila dilihat dari sudut perbatasan sawah dan perkampunganku, apalagi batang asam jawa yang diperkirakan berumur 200 tahun itu dengan kokohnya berdiri tegap dan setia menemani sekolahku. Mereka bagai teman sejati yang sepertinya telah mengiikrarkan diri sehidup semati. Layaknya seorang lelaki dengan sang pujaan hati. Agak berlebihan bukan? Namun memang demikian adanya.

Tiba-tiba aku terpikir ke batang asam jawa itu. “Wah,, kok baru ingat ya?” batang asam jawanya lagi berbuah. Aku sempat mengambil beberapa buah yang sudah tua jatuh ke tanah pagi tadi waktu aku kesekolah. Tanpa pikir panjang aku melintasi sawah yang membatasi kampungku dengan sekolah, jaraknya kurang lebih sekitar 1 kilometer lah.

Aku terus menyusuri jalan-jalan sempit persawahan, padi yang berwarna hijau tampak anggun mengibaskan aroma ladang yang sangat identik dengan pedesaan. 

Sesampai di dekat sekolah, sebuah pagar menghalangiku untuk masuk ke area sekolah. Aku mencoba untuk memanjat pagar yang berkomposisi dahan rumbia dan ranting bambu, kaki kanan kuangkat dan tangan menggenggam erat tiang pagar yang diikat anyaman rotan. “Prakkk…” bunyi sesuatu disela-sela pahaku, aku sudah menebak, bolongan celana yang kujahit tangan beberapa hari yang lalu kembali berulah. Bukan untuk pertama kali, mungkin untuk kesekian kali celana ini mengeluarkan nada yang sama.

Aku kini berada dibawah batang abadi, aku tertegun, betapa lebatnya buah asam jawa ini. Aku tak detail memperhatikannya saat kesekolah pagi tady. Dengan tubuh mungil itu langsung saja ku rangkul batang yang berdiameter 200 cm. Bukan suatu hal yang susah bagiku yang hobi memanjat, terlebih batang asam ini sudah ditempeli paku-paku besar oleh senior-seniorku yang lebih dulu merangkul batang asam jawa ini.

Sesampai di ketinggian lebih kurang 15 meter, aku duduk di sebuah dahan besar yang dikelilingi buah matang, dengan perasaan bak seorang raja hutan yang sedang berkuasa, aku ‘menjilat, mengemut’ beberapa biji asam jawa yang sudah matang. Sayup-sayup semilir angin bermain disela-sela dahan dan dedaunan yang sedikit kuning berguguran ke persawahn dan atap sekolahku. Matahari perlahan-lahan kembali keperaduan.

Selagi hanyut dalam suasana santai, tiba-tiba aku dikejutkan bunyi rentetan dan dentuman keras, aku terkejut karena suara itu tidak jauh dariku. Suara itu terus saja berdesing beberapa menit, aku tau itu suara senjata dan suara dentuman bom low explosive. Hatiku bergetar, jantung berdegub kencang, ingin menangis dan berteriak, aku takut, sampai-sampai perasaan takutku membuat sekililingku seperti mimpi.


Tiba-tiba beberapa mobil berwarna gelap dan berbunyi keras melewati sekolahku, beberapa lelaki berbaju loreng turun dengan senjata Set Mode Auto. Bulir-bulir Kristal mengalir membasahi pipiku, aku takut, suasana sangat mencekam, aku diam, aku diam tanpa bergerak. Mereka terus saja berputar-putar didekat batang asam, aku berdoa kepada allah tanpa henti, kalau lah saja diantara mereka ada yang melihat keatas, dan berhati bengis, maka melayanglah nyawaku.



30 menit berlalu..

Aku diam beku bak tersiram salju. Hmmm... perasaan sesak yang memyelimuti dada kini menjadi sedikit lega, itulah yang kurasa. Pria-pria berpakaian loreng yang berada dibawah batang asam jawa tempatku bertengger pergi ke arah timur sekolahku. Tiba-tiba, untuk kedua kalinya rentetan suara senjata memecahkan keheningan sore. Jantungku kembali berdegup kencang, mataku kian sembab, pikiranku menangis berirama, jemariku seakan lepas, aku menangis dan terus menangis berharap seseorang membawaku pergi dari tempat ini.

Sejenak, semua kembali sepi. Kulihat kebawah, dijalan tak ada 1 manusiapun yang melewati tempat ku bertengger. Aku mencoba untuk turun, aku melangkah dan berjalan dari satu dahan kedahan yang lain. Dibalut api ketakutan, perlahan aku turun sembari melihat kiri kanan. Kupastikan tak ada pria-pria tegap yang memanggul senjata melihatku.

Ketika kakiku menginjak tanah, tanpa banyak pikir aku berlari dan berlari, kulompati pagar yang penuh bambu berduri, aku menangis ketakutan. Sesampai di sawah aku menunduk, merayap perlahan melewati kali-kali kecil di pematang sawah. Aku masih saja menangis.

Sesampai di pinggir pematang sawah perbatasan antara lading-ladang penduduk dan desaku, aku merebahkan diri di bedeng air tempat orang-orang desaku mengairi sawah, aku lelah, tak mampu melangkah kerumah. Bedeng itu hanya berlebar 4 meter. Sembari mencoba menghilangkan rasa takutku beberapa saat yang lalu, kuamati air deras di bedeng membentuk air terjun kecil. Pemandangan bedeng membuat otak kosong, mata tak berkedip.


 
“Pubut hino ka meghrep?” seseorang menyapaku dari belakang. Rupanya tetanggaku, Kak Mala. Aku cuma diam membisu tanpa menggubris pertanyaan nya.

“Jakwo keudeh, bek hek nek droe keuh mita-mita droe keuh tip uroe sabee.”

“Jeut kak, siat teuk, loen hek that nyoe."Jawabku.

“Kakeuh, kak wo ilee, bek trep-trep that wo, sayang nek sidroe dirumoh.” Katanya sembari membersihkan lumpur-lumpur dikakinya dan berlalu pulang lebih dulu.

_______
Berfaedah Dari Catatan Berdebu Sang Kakak




0 Comments