TIGA PULUH ENAM PURNAMA FANSUR


Permukaan laut berkilauan diterpa sinar mentari pagi, angin berhembus kencang menerjang layar-layar tongkang yang lalu lalang keluar dan masuk dermaga, manusia mondar-mandir menjaring harap, menabur usaha mengais rezeki. Seorang laki-laki berkopyah beludru hitam, tubuhnya semampai dibalut jubah hijau yang menambah wibawanya ketika orang memandang ke tubuhnya.

Usianyalah yang telah memaksa kakinya agar beranjak meninggalkan kampung halamannya. Seperti halnya anak-anak lain yang seusianya juga harus beradu nasib ke negeri seberang. Yang bekal dibawanya hanya sekedar cukup untuk perjalanan sampai tujuan, selebihnya ditinggalkan di pinggir dermaga tersebut. Tak lupa dibelinya sebungkus rokok sebagai bayaran ongkos sampan yang ditumpanginya dengan harapan sampai tujuan dengan selamat.

Tiga batang rokok abang pengayuh sampan telah habis dilumat api berarti Dermaga Pandan Karang sudah dekat, biasanya hanya menunggu sebatang rokok lagi lumat dimakan api, maka akan terlihat balai-balai kecil mengitari pelabuhan.

Setelah menuruni tangga dermaga ia bergegas mencari gerobak yang akan bergerak kearah barat. Dengan mudahnya ia menemui gerobak kuda dengan pemilik berkopyah putih, ia meminta izin agar bisa menumpang sampai ditujuan.

Dua jembatan telah dilewati gerobak, berarti saatnya turun di pertigaan keempat. Sambil mengucapkan terimakasih ia bergegas menuju ke arah selatan. Sekarang ia tepat berada di depan gerbang Dayah tempat yang menjadi tujuannya kini sudah berada di depan mata. Pagar yang terbuat dari belahan batangan bambu yang diikatkan ke pohon pinang mengitari sekeliling Dayah. Dari depan gerbang utama terlihat balai-balai beratap rumbia, tujuh balai seukuran lima shaf barisan shalat, dan sisanya tiga balai seukuran sepuluh shaf barisan shalat. Disisi kiri Dayah terdapat sebuah meunasah dengan tiga undakan atap yang tersusun padu.

“Assalamualaikum, saya Fansur perantau dari Kampung Pakel.”,dia memperkenalkan diri kepada salah seorang santri yang sedang lewat dihadapannya dengan memanggul cangkul dipundaknya.

“Walaikumussalam, ooo... pendatang baru, mari saya antar untuk bertemu Gus Mus. Seperti halnya santri lain yang baru datang dari sebuah perjalanan atau baru pertama kali menginjakkan tanah Dayah harus bertemu Gus dulu.”, jelas sang santri sambil berjalan menuju sebuah rumah panggung yang tepat berada disebelah selatan meunasah, atap rumah yang terhubung dengan meunasah terlihat seperti sebuah bangunan yang sama.
Jarak satu tombak dari tangga rumah Gus Mus berdiri tiga orang santri yang berbeda perawakan antara satu dengan yang lainnya.

“Mereka adalah santri yang pertamakali belajar di Dayah ini, dan merupakan santri pilihan yang diamanahi untuk mengurusi tiga rasi pendidikan yang berbeda.”, santri yang menemani Fansur menjelaskan dengan pernyataan yang ambigu.

“Bur, Gus Mus ada didalam sedang shalat dhuha.”, santri yang berselendangkan sajadah tanpa basa-basi memberikan jawaban sebelum Burju melontarkan pertanyaan.

“Oh ya... ini ada perantauan yang ingin menuntut ilmu dan kalam ilahi di Dayah kita.”, Burju menjelaskan sebab kedatangannya kerumah Gus Mus.

Setelah sepersekian menit menunggu diluar, akhirnya Gus Mus pun muncul dari balik daun pintu yang berukiran sulur bunga, dengan hati-hati ia menuruni tangga, lalu Burju menjelaskan perihal kedatangannya dan memperkenalkan Fansur kepada Gus Mus. Berbincang-bincang dengan Gus Mus adalah hal yang paling digemari oleh Santri Dayah Karang, selain memperoleh ilmu, mereka juga mendapat hal-hal baru dan unik yang jarang diketahui oleh banyak orang.

“Oh ya, kau disini akan menjalani masa pendidikan selama tiga puluh enam purnama. Dua belas purnama pertama kau akan belajar bersama Habib.”, Gus Mus menjelaskan sambil menepuk-nepuk pundak santri bersongkok hitam disebelahnya.

“Kyai Habib, panggil saya Kyai.”, Habib memperkenalkan dirinya.

“Dua belas purnama kedua, hari-harimu bersama Yusuf.”,Gus Mus Menjelaskan.

“Buya Yusuf, panggil saya Buya.”’ Yusuf menjabat tangan Fansur.

“Dan setelah melewati dua puluh empat purnama, kau akan bertualang bersama Buhan.”, Gus Mus menarik nafas panjang.

“TeungkuBuhan, panggil saya Teungku.”, ucap Buhan sambil tersenyum.

Mentari dipenggalan siang hari ini terkalahkan dengan hangatnya pertemuan Fansur dengan gurunya dan kakak seperguruannya tersebut.

“Gus, ini ada titipan dari Ibu saya.”, ucap Fansur sambil menyerahkan sekantung beras kepada Gus Mus.

“Ya, terimakasihNak. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan.”, Gus Mus berterimakasih.

Sebuah kebiasaan yang sudah menjadi syarat di zamannya, apabila seorang santri hendak belajar disebuah Dayah, biasanya mereka membawa beras sebagai simbol serah terimanya seorang anak dari orang tua keguru Dayah.

Dua belas purnama pertama Fansur menjalani hari-harinya bersama Habib di balai yang menghadap ke arah pepohonan coklat yang ditanam didalam cincin sumur.

“Fansur, selama belajar bersama saya, kau diharapkan mampu mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dan mahir dalam menjahit songkok.”, Habib menjelaskan sambil melepaskan songkoknya, lalu mengibas-ngibaskannya keudara.

“Ya, Kyai... Insya Allah saya akan berusaha untuk memantapkan dua materi tersebut.”, jawab Fansur.

Mereka berjalan menuju sebuah bilik diselatan meunasah. Disana terlihat santri-santri yang sedang belajar menjahit songkok.

“Empat jum’at pertama kau akan belajar disini, membuat songkok bersama santri-santri lain. Kau mulai belajar setiap hari kecuali jum’at, dari waktu dhuha sampai kau lihat Gus Mus pulang dari sawahnya.”, Habib menjelaskan pola hidup di Dayah. Fansur mengangguk pelan, tanda mengerti.

“Sekarang kau bisa bergabung bersama mereka.”, ucap Habib sambil beranjak menuju gerbang Dayah.

Malam menyelimuti Dayah. Terdengar sayup-sayup suara orang mengaji yang bersumber dari meunasah. Ya, setiap malam santri-santri Dayah menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan Kalam Ilahi sampai Isya tiba, kemudian mereka melanjutkan aktifitas di balai masing-masing.

Enam purnama berlalu. Fansur telah mahir dalm menjahit songkok dan hafalannya telah mencapai Surah An-Nisa’ kecil.

Santri Dayah telah memproduksi berlusi-lusin songkok yang dijual bebas kepada pengunjung yang hilir mudik di dermaga Pandan Karang. Pada setiap songkok karya santri tertulis nama penjahit disisi dalam songkok tersebut. Kualitas dari sebuah songkok sangat ditentukan oleh kelihaian dan kemahiran sang penjahit.

Dua belas senyum purnama berlalu dengan cepat, kini saatnya Fansur mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan belajar bersama Yusuf.

“Enam purnama pertama, kau akan diajarkan cara menganyam tikar. Proses menganyam bisa kau pelajari dibilik selatan meunasah, untuk bahan baku tikar bisa kau peroleh dari warga dusun barat, ambillah pandan yang telah diikat setiap pagi bersama Gus Mus.”, jelas Yusuf kepada Fansur.

Tikar hasil anyaman santri di beli oleh penduduk sekitar untuk alas balai-balai mereka. Tak jarang pula pelancong dari mancanegara membayar dengan harga selangit untuk selembar tikar pandan.

Tiba waktunya bagi Fansur untuk memperoleh ilmu lanjutan setelah mengawal enam purnama bersama Yusuf.

“Sajadah-sajadah ini hanya dihasilkan oleh tangan-tangan santri pilihan saya, kali ini kau berkesempatan untuk memproduksi sajadah, berkaryalah semaksimal mungkin untuk menghasilkan produk terbaik.”, Yusuf berpesan.

“Alhamdulillah, terima kasih Buya, Insya Allah saya akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.”, Fansur berterima kasih kepada Yusuf atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya.

Sajadah, sehelai kain yang digunakan setiap muslim untuk shalat setiap harinya. Berapa banyak orang yang bersujud diatas kain tersebut, berapa tetes air mata yang telah tumpah-ruah membasahi beludru lembutnya. Jangan ragu pula berapa pahala yang diperoleh sang penjahit sajadah tersebut. Satu lagi dari Dayah untuk Indonesia.

Dari pelosok Nusantara memancar cinta-cinta sejati yang hanya dikenal oleh angin, bebatuan dan pepohonan. Santri-santri lugu yang tak pernah ragu dengan ucapan sang guru. Semua titahnya dilaksanakan tanpa banyak tanya dan berkata untuk apa dan mengapa. Begitulah Gus Mus mengajarkan kepada santri-santrinya arti sebuah loyalitas.

“Nak... seandainya kalian ditelantarkan orang dijalanan, dibuang ke tengah hutan, kalian tetap bisa hidup, karena bersama kalian ada Al-Qur’an yang akan memberikan solusi dari segala permasalahan yang kalian hadapi dalam kehidupan ini.” Sebuah alasan kenapa Gus Mus mengajarkan pertamakali kepada santrinya Al-Qur’an.

“Nak... lihatlah benda di atas kepalamu, kau perhatikan baik-baik, hitam, tapi dibalik kesederhanaan yang dimiliki songkok ini menyimpan berjuta makna. Nak...kau akan berhasil di dunia dan akhirat dengan songkok ini. Seandainya kau di ajak untuk bermaksiat dia akan mencegahmu, kau akan berkata dilubuk hati yang paling dalam “aku seorang muslim”, kenapa? Karena kau bersongkok.” Alasan Gus Mus mengajarkan kepada anak didiknya cara pembuatan songkok dan memakainya dimanapun dan kapanpun.

Dua puluh empat purnama telah dilalui Fansur, empat materi pokok yang diajarkan di Dayah telah dikuasainya, kini saatnya untuk menerima dua materi penting yang akan berguna untuk Islam tak ayal bagi negerinya yang sedang dalam keadaan terpuruk.

“Enam purnama pertama kita akan belajar mempertahankan dri dari ganasnya alam. Ingat, alam bukan untuk ditantang, melainkan untuk dijadikan sahabat. Kita akan belajar cara membela diri, bertahan dari serangan musuh.”, Buhan memberi penjelasan dan tujuan pembelajaran yang akan dilalui oleh Fansur.

“Teungku, apakah kita akan meninggalkan Dayah?”, tanya Fansur.

“Tentu...bawalah bekal yang cukup. Ingat, kita tidak membutuhkan beras, kau cukup membawa benih jagung, garam, korek api, pisau dan sebotol air.”, Buhan mengarahkan kakinya keluar Dayah.

“Siap Teungku.”, Fansur bergegas mempersiapkan bekal yang akan digunakan untuk petualangannya selama enam purnama kedepan.

Tanpa basa-basi, waktu terus berlari mengejar masa yang tak sedetikpun menoleh kebelakang. Purnama ke dua puluh lima menyambut Fansur.

“Materi terakhir dari pendidikan Dayah, terjun kemasyarakat. Kau harus mampu mengatasi masalah yang muncul ditengah-tengah mereka, bersabarlah jika kau diusir oleh penduduknya. Kau harus mampu mengambil hati mereka.”, Buhan memberi wejangan.
“Teungku apakah saya akan diberikan rumah?”, tanya Fansur.

“Jika kau diterima oleh masyarakat , mereka akan memberikan semua kebutuhanmu.”, jawab Buhan.

“Masyarakat adalah poros sebuah negara, jika porosnya kuat, maka negara tersebut juga akan kuat. Begitu pula sebaliknya.” Gus Mus memberi penjelasan.

Peran Dayah untuk sebuah negara lengkap sudah. Poros yang dibangun kuat dengan disebarnya santri-santri untuk berdakwah dan memahamkan masyarakat akan pentingnya loyalitas dalam bernegara. Pemberontakan yang disulut api kemarahan di tengah masyarakat akan terminimalisir. Tercermin dari masyarakat yang baik, maka mereka pun akan memilih pemimpin yang baik.

Hanya secercah partisipasi bela negaralah, yang mampu Gus Mus berikan untuk Indonesia, tempat yang telah menerimanya sebagai anak bangsa, dan menerima jasadnya untuk disemayamkan di sejengkal tanah bumi Indonesia. Gus Mus telah berhasil melahirkan santri-santri yang berjuang dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

Kini Gus Mus Telah tiada.


Bismillah...
Untuk para santriku tercinta... ratusan purnama telah kita lalui bersama... ribuan jum’at telah kita lewati... satu permintaan Gus... mohon maaf... hanya sedetik yang bisa Gus berikan manfaatnya untuk kalian... satu pesan... jangan pernah lepaskan Al-Qur’an... seuntai nasihat... cita-cita harus dimunajatkan dalam setiap shalat... cita-cita harus didoakan setiap saat... cita-cita harus dipahat...

     Gurumu
Musamma Bil’Ulama


Tiga ratus tujuh belas jum’at berlalu setelah Gus Mus tiada. Bersinarlah pelosok nusantara dengan dakwah santri-santri Dayah Karang.

“Hei..mari shalat di Masjid Istiqlal, bermakmumlah dibelakangnya... kau akan merasakan indahnya persatuan.Kau tahu siapa gerangan imam yang bacaannya semerdu Daud? Dia santri Gus Mus, Fansur namanya”, ucap salah seorang jamaah Masjid Istiqlal.

“Jangan lupa bersua dengan pak presiden ketiga, kau akan mendapati tulisan dibagian dalam songkoknya Songkok Fansur Cap Santri.”, sahut yang lain.

“Jika berkesempatan ke tanah suci, tanyalah asal-usul selembar sajadah yang di bentangkan di depan kakbah tersebut. Jangan kaget jika terbordir di sana Made In Indonesia Cap Santri.”, pesan yang lain.

“Jika kau ingat nama salah satu jenderal orde baru, carilah asal-usulnya, tanyakan siapa gerangan gurunya yang telah mendidiknya menjadi seorang ksatria. Jangan kaget bila ia menjawab guruku Musamma Bil’Ulama.


___

Disusun di Auditorium MTQ Isy Karima oleh Wafi Shiddiq.


0 Comments