TANAH AIR


Banyak diantara kita (mungkin termasuk saya), memiliki mindset  bahwasanya minyak adalah segala-galanya. Ya... Saudi Arabia dengan ladang minyaknya mampu bangkit dari keterpurukan. Tidak jauh berbeda dengan Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Brunei Darussalam dan beberapa negara lainnya juga mampu muncul dikancah dunia dan mengatakan "INILAH AKU". 


Air diatas minyak, ya... kita mengetahui bersama bahwa untuk mencapai minyak harus menembus dalamnya bumi, kita harus melewati berlapis-lapis tanah, lapisan batu, dan air. Saya bisa memastikan bahwa minyak berada dibawah air dan dibawah tanah. Ada yang mengatakan bahwa semakin jauh kedalam perut bumi minyaknya semakin bagus. Ya... saya percaya, akan tetapi susunan dari semua unsur-unsur diatas tentunya air lebih utama, lebih istimewa. Tanah lebih mulia, lebih bermartabat dibandingkan dengan minyak. Lihat saja kedudukannya, dimulai dari tanah, kemudian air, terus diikuti dengan lapisan bebatuan dan unsur lainnya dan baru ditemukan kediaman minyak.

Minyak bagi saya tak lebih istimewa dibandingkan dengan tanah dan air. Orang nusantara menamai Indonesia dengan TANAH AIR, kenapa tidak dengan tanah emas, atau tanah minyak atau dengan penamaan yang lainnya? Ya... tentunya karena para pendahulu kita sangat paham  kedudukan tanah dan air dibandingkan unsur-unsur yang lain. Sehingga mengambil tanah dan air sebagai simbol nusantara.

Jadi ingat firman Allah tentang air nih...

Surah Al-Anbiya' ayat 30

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? 
Yang tanah ada juga nih...

Surah Ghafir ayat 67

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
Pada kedua ayat diatas tercantum sangat jelas kata air dan tanah. Jika kita teliti lebih jauh, didalam Al-Qur'an  tidak ada kata yang mencantumkan kata minyak secara gambalng melainkan hanya tersirat, seperti dalam ayat berikut

Surah Al-A'la ayat 4-5
وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى

" dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,"
فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى

"lalu dijadikan-Nya (rumpu-rumput) itu kering kehitam-hitaman."

Pada ayat ke5 dalam surah tersebut terdapat kata (غُثَاءًGhutsaa-an, menurut Lane (1984) didalam Arabic-English Lane's Lexicon Ghutsaa-anberarti  "kumpulan dari partikel-partikel sampah atau daun yang sudah busuk dan bercampur dengan sampah, sedangkan menurut tafsir Depag RI (2009) (غُثَاءًGhutsaa-an bersifat seperti buih yaitu menindihnya sesuatu pada sesuatu yang lain. (أَحْوَى) Ahwa berarti gelap atau hitam kehijauan. Apabila dihubungkan dengan ayat sebelumnya yaitu QS Al-A’la [87:4] menunjukkan bahwa Allah yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu rumput-rumputan bercampur dengan daun dan sampah yang busuk. Sisa-sisa dari rerumputan yang bercampur daun dan sampah yang busuk tersebut kemudian mengendap didasar bumi dan lama kelamaan tertutup lumpur. Lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh dari tekanan lapisan diatasnya. Sementara dengan meningkatnya suhu dan tekanan, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa jasad renik itu menjadi minyak dan gas. Minyak bumi yang terbentuk berwarna hitam gelap kehijauan. Hal ini sesuai, menurut pertamina bahwa minyak bumi berwarna hitam gelap kehijauan dan mudah terbakar.

Demikianlah Allah telah menciptakan keutamaan terhadap sesuatu untuk saling melengkapi. Jadi, kata tanah air memang sangat cocok untuk disematkan untuk nusantara yang dikelilingi oleh laut dan mempunyai tanah yang subur.

Semoga Allah memberkahi negeri ini sebagaimana Allah telah memberkahi Makkah melalui Nabinya Ibrahim ketika berdo'a kepada Rabbnya,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".

Wallahu a'lam.

___

Ahad, 26 Rajab 1438
Usai ujian juz XXV


0 Comments