Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia ada orang yang
mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan
Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu
akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6)
Banyak yang bertanya-tanya, musik
haram?
لَيَكُونَنَّ
مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ
وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ
عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ – يَعْنِى الْفَقِيرَ – لِحَاجَةٍ
فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ
الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok
orang yang meng-halal-kan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan
beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak
mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka
berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan
siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah
sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”
Dalam teks hadits diatas telah
jelas tercantum kalimat "meng-Halal-kan", jadi otomatis kita sudah paham makna yang tersirat dalam kalimat tersebut.
إِنَّ
أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah
pada hari kiamat adalah para penggambar (makhluk bernyawa).”
Jadi
seni yang di ajarkan dalam Islam apa? Musik dilarang "Haram",
menggambar dilarang "Haram".
Islam anti seni?
Harap tenang, di luar pembahasan yang sempit tersebut Islam masih
menyediakan ladang yang begitu luas bagi pemeluknya. Islam masih membuka
peluang bagi pemeluknya untuk menyalurkan bakatnya. Bukankah Islam hanya
membatasi beberapa hal yang mungkin kita tidak mau tahu hikmah dibalik larangan tersebut.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan "Islam Anti
Seni"?
Mungkin Saya akan balik bertanya, "Apakah seni hanya sebatas
nyayian atau lukisan?"
Bukankah seni sangat banyak macamnya?
Saya membuat hal-hal baru dalam konteks definisi seni, kemudian
saya me-labeli-nya dengan karya seni, bukankah itu juga termasuk seni?
Terus bagaimana orang-orang bisa mengatakan "Islam Anti
Seni", sedangkan seni itu berasal dari Islam.
Kenal Khat? Syair? Nasyid? Rebana? Masjid? Coba sebutkan semua yang
pernah Anda lihat mengenai keindahan.
Mungkin benar kata orang "Kalau tidak ada seni, tidak akan
laku", tapi Islam jauh dari apa yang kita bayangkan,. Islam telah mengatur
sesuatu yang belum pernah terlintas dipikiran kita. Jangan tanya mengapa Islam
melarang ini, melarang itu. Karena suatu saat hikmah dibalik pe-larang-an
tersebut akan medatangi Anda tanpa perlu diundang.
Wallahu a'lam.
___
Disusun di kelas XIIA - Selasa, 1 Dzul-Qai'idah 1438 H - Oleh Wafi Shiddiq.


0 Comments