Sebelum dan sesudahnya aku awali dengan pinta maaf ini.
Untukmu yang telah singgah dihatiku, begitu pula dengan rasa yang telah Dia tumbuhkan di dalam naluriku untuk membaginya kepadamu. Aku tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, aku hanya seonggok sampah peradaban manusia. Aku takut jadi tak sesuai harapan, aku takut jadi mengecewakan.
Maaf, aku tak sebaik pria lain karena diriku penuh dosa dan kita terlampau jauh berbeda. Baiklah ku-tsiqah-kan, kita terlampau jauh berbeda dari mulai gaya hidup sampai latar belakang keluarga. Namun, segala ciptaan di jagat raya ini harus genap. Karena hanya Dialah yang berhak ganjil.
Suatu saat nanti dan ketetapan-Nya telah pasti, kamulah yang akan menggenapkan diriku. Maka, Dia akan membimbingku untuk menjemputmu melalui jalan ridha-Nya. Maaf, aku tak sebaik pria lain. Jadi tolong bantu aku untuk menjadi yang terbaik bagimu.
Untukmu yang telah singgah dihatiku, begitu pula dengan rasa yang telah Dia tumbuhkan di dalam naluriku untuk membaginya kepadamu. Aku tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, aku hanya seonggok sampah peradaban manusia. Aku takut jadi tak sesuai harapan, aku takut jadi mengecewakan.
Maaf, aku tak sebaik pria lain karena diriku penuh dosa dan kita terlampau jauh berbeda. Baiklah ku-tsiqah-kan, kita terlampau jauh berbeda dari mulai gaya hidup sampai latar belakang keluarga. Namun, segala ciptaan di jagat raya ini harus genap. Karena hanya Dialah yang berhak ganjil.
Suatu saat nanti dan ketetapan-Nya telah pasti, kamulah yang akan menggenapkan diriku. Maka, Dia akan membimbingku untuk menjemputmu melalui jalan ridha-Nya. Maaf, aku tak sebaik pria lain. Jadi tolong bantu aku untuk menjadi yang terbaik bagimu.
Setahun sudah rasa ini berkecimpung sendiri, tak ada yang berani untuk berbagi. Sampai pada saatnya Allah mengutus seseorang yang ternyata akan memberikan sedikit celah bagi dada-ku untuk bisa kembali bernafas normal. Ingat, setahun rasa ini hanya terbang ke arah yang tak pasti. Sampai di titik tertingginya, aku ingin mati. Bukan tak ada alasan aku me-viralkan-kan kalimat aneh "Selamat datang kematian", justru itulah yang membuatku sedikit lega karena hanya ke-mati-an yang bisa menunjukkan kemana arah rasa ini harus berakhir.
Dibanyak sisi mungkin kamu lebih banyak unggul dari diriku. Tapi, aku tidak bisa serta merta memutuskan sendiri tentang sebuah rasa. Aku harus banyak berdiskusi, harus banyak bertanya dan harus banyak berguru untuk memastikan rasa yang sebenarnya.
Dua hal yang membuatku akan sangat lega, jika Pencipta rasa ini dan keluargaku ridha terhadap rasa yang telah terawat dengan sendirinya dalam diriku. Mungkin, aku tidak akan bisa menggenapkanmu jika pemilik "Ayahanda dan ibunda" diriku belum mengenal sosok yang singgah di hatiku. Karena bisa jadi gara-gara rasa yang tak ter-ridhai ini, akan merusak surga kecilku.
Aneh memang jika aku yang memintamu untuk mendekati keluargaku. Tapi, selama itu kebaikan yang akan memperluas surga kita, kenapa tidak? Karena sesungguhnya aku telah mencoba mengetuk pintu surga kecilmu dan aku disambut dengan hangat. Setidaknya, kamu harus mencoba juga untuk mengetuk pintu surga kecilku. Semoga kamu disambut oleh penghuninya dan dijamu dengan jamuan terbaik pada zamannya. Apakah itu mungkin? Yah, dicoba saja, insyaallah akan terwujud harapan yang selama ini 'aku' kamu dambakan. Cara insan berbeda-beda untuk menarik simpati. Begitupula dengan diriku, aku mengetuk pintu surga kecilmu dengan caraku. Aku berharap ada yang mau menghampiri surga kecilku walaupun hanya sekedar untuk mengucapkan salam.
Aku telah mengetuk pintu surgamu dan penghuninya terganggu. Sekali lagi maaf.
Maaf.
__
Menunggu kepastian.
Dar Ibnu Abbas - 04:26 AM, Senin, 7 Dulqa'idah 1438 H / 31 Juli 2017 - Senang kalau disapa.
Dibanyak sisi mungkin kamu lebih banyak unggul dari diriku. Tapi, aku tidak bisa serta merta memutuskan sendiri tentang sebuah rasa. Aku harus banyak berdiskusi, harus banyak bertanya dan harus banyak berguru untuk memastikan rasa yang sebenarnya.
Dua hal yang membuatku akan sangat lega, jika Pencipta rasa ini dan keluargaku ridha terhadap rasa yang telah terawat dengan sendirinya dalam diriku. Mungkin, aku tidak akan bisa menggenapkanmu jika pemilik "Ayahanda dan ibunda" diriku belum mengenal sosok yang singgah di hatiku. Karena bisa jadi gara-gara rasa yang tak ter-ridhai ini, akan merusak surga kecilku.
Aneh memang jika aku yang memintamu untuk mendekati keluargaku. Tapi, selama itu kebaikan yang akan memperluas surga kita, kenapa tidak? Karena sesungguhnya aku telah mencoba mengetuk pintu surga kecilmu dan aku disambut dengan hangat. Setidaknya, kamu harus mencoba juga untuk mengetuk pintu surga kecilku. Semoga kamu disambut oleh penghuninya dan dijamu dengan jamuan terbaik pada zamannya. Apakah itu mungkin? Yah, dicoba saja, insyaallah akan terwujud harapan yang selama ini 'aku' kamu dambakan. Cara insan berbeda-beda untuk menarik simpati. Begitupula dengan diriku, aku mengetuk pintu surga kecilmu dengan caraku. Aku berharap ada yang mau menghampiri surga kecilku walaupun hanya sekedar untuk mengucapkan salam.
Aku telah mengetuk pintu surgamu dan penghuninya terganggu. Sekali lagi maaf.
Maaf.
__
Menunggu kepastian.
Dar Ibnu Abbas - 04:26 AM, Senin, 7 Dulqa'idah 1438 H / 31 Juli 2017 - Senang kalau disapa.


0 Comments