Aku sangat mengerti akan jiwa sosial, walaupun kata orang
keluargaku keluarga IPA, akan tetapi jiwa sosial yang digariskan oleh kakek
dari pihak ayahku tak mampu menutup sempurna ke-IPA-an yang telah disematkan
untuk keluargaku.
Sedikit cerita yang akan membuat aku paham bahwa hidup ini
tidak mengikuti keinginan sendiri.Walaupun banyak belum tentu benar, tapi untuk
bernegoisasi dengan orang yang lebih banyak itu sangatlah sulit dari
yang aku bayangkan. Adakalanya aku harus mengikuti keinginan banyak orang,
padahal aku tidak menyukai apa yang mereka harapkan.
“Mi, apakah pilihanku untuk tak pulang saat wafatnya Abu
Chiek adalah pilihan yang salah?”
Ummi hanya tersenyum dan berkata, “tentu tidak, ummi justru
berterima kasih kamu sudah menuruti inginnya Abu Chiek-mu. Kau pulang atau kau
tak pulang semua akan sama saja. Takkan mengubah takdir Abu Chiek yang telah
meninggal. Malah, menunggumu pulang sebelum Abu Chiek dimakamkan akan membuat
banyak kesedihan. Tetangga akan terus menanyai keluarga kita Abu Chiek
meninggal kapan dan bagaimana secara berulang-ulang.”
“Kenapa kamu tanya itu? Pasti tetangga kita tadi menanyakan soal
ketidakpulangamu, iya?”
Aku mengangguk. Ummi mengusap pundakku. Membuatku merasa lebih
tenang.
“Ketahuilah, nak! tak hanya dirimu yang ditanyai orang dengan
pertanyaan macam ini. Kau tahu keluarga kita awalnya tak berniat mengadakan
tahlilan? Bukan, bukan karena keluarga ini tak sayang dengan Abu Chiek-mu. Tapi
itulah yang memang diingini oleh Abu Chiek. Ia berpegang teguh pada prinsipnya
bahwa hanya ibu, anaknya, yang akan mampu menyelamatkannya di akhirat kelak
selain amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Mengadakan tahlilan, sama seperti
menunggu kepulanganmu kala itu, akan membuat kita terus ditahan perasaan tidak
ikhlas dan perandaian yang tak perlu.”
“Tapi pada akhirnya, ummi buat juga kan acara tahlilan?”
“Iya memang, namun itupun hanya tiga hari. Telinga abu panas
mendengar tetangga-tetangga bicara tentang apakah keluarga kita tak berduka
setelah sepeninggalan Abu Chiek sehingga tak perlu mengadakan tahlilan.
Tahlilan itupun kemudian digelar untuk mereka-mereka juga. Bahkan tiga hari
itupun bagi mereka kurang. Mereka bertanya kenapa tak ada tahlilan tujuh
harian. 40 hari. 100 hari. Satu tahunan. Dan sebagainya. Mereka malah
mengatakan abu pelit karena hanya tiga hari. Seolah tak puas mereka menyaksikan
kita semua dipaksa harus terus berduka. Ummi katakan kepada abu untuk jangan
menuruti keinginan tetangga. Kita hormati saja keinginan almarhum.”
Yah... Begitulah kehidupan yang hanya mengerti akan kelezatan,
padahal yang diurusi adalah kematian, masih sempat berdebat pasal tahlilan. Aku
banyak belajar dirantauan. Sangat mengerti akan pentingnya kampung halaman,
persaudaraan, dan kecintaan yang terus dipupuk sepanjang zaman.
Wallahu a'lam.


0 Comments