Dunia berubah menjadi hitam dikarenakan terlalu banyak dosa
manusia yang bertebaran seiring dengan terbangnya debu yang disapu oleh seorang
petugas taman kota itu. Termenung, kegiatan yang sudah banyak ditinggalkan oleh
manusia, tak lebih dari sekedar berbasa-basi dengan pikiran yang sudah melayang
kearah lampu di persimpangan jalan sana.
Jakarta, kota yang disebut berjaya itu kini sudah berbeda. Kata
ayah dulu setiap ingin membeli buah-buahan untuk dibawa kerumah orang sakit
bisa dibeli disini. Ya... Memang sih dulu disini banyak pedagang buah yang
menjajakan dagangannya . Pak Karto, kuingat nama tersebut. Dibalik terpal biru
biasanya dia meneduhkan kepalanya dari sengatan sinar matahari. Kini banyak
orang yang menyakan perihal Pak Karto. Kujawab, beliau sudah pindah. Pindah
kemana? Ya... Aku kurang tahu juga, pasalnya ketika itu aku hanya
melihat segerombolan orang memakai seragam yang agak berwarna coklat
menghampiri Pak Karto lalu mengusirnya begitu saja. Dagangannya dirusak. Terpalnya
dicopot. Dan hal lain yang aku tidak ingat persis peristiwa jum'at pagi itu.
Mungkin pagi tiu menjadi jum'at yang sangat sial bagi sekelompok pedang
disepanjang trotoar ini.
Siang itu, didalam angkutan taksi online ayahku berbas-basi,
"Mas... Jakarta udah berbeda dengan yang dulu ya?".
"Oh iya... dulukan banyak sampah, pedagang ga karuan
disepanjang trotoar."
"Jadi pedagang yang disepanjang trotoar itu dipindah
kemana?"
"Oh... yang biasa mangkal dipinggir jalan itu di pusatkan
ke mall. Kata pak Gubernur supaya lebih rapi."
"Gitu ya? Bukannya kalau buka lapak dimall harus pake
sewaan dan tentunya sangat mahal?"
"Tentu dong... dimall khusus bagi pedagang yang punya modal
aja, kalu ga punya modal ga usah jualan."
Ah... Mungkin nasib Pak Karto masuk dalam pedagang yang ga mampu
sewa lapak. Seharusnya Pak Gub paham tentang, kondisi, keadaan, harapan
rakyatnya. Mencari jejak Pak Karto mungkin sudah tidak mungkin lagi, sudah
terlalu jauh ia melangkah untuk mencari sebutir nasi "Nak... Sebutir nasi
saja susah kudapatkan, apalagi sesuap...".
Aku berharap agar segera bertemu dengan Pak Karto.
"Pak aku cuma punya jarum dan benang ini... Ambillah... Ini
untuk merajut mimpi bapak yang sudah terkoyak...". Kalimat terakhirku
senja itu, sambil menanti hilangnya banyangan Pak Karto dari hadapanku.
Wallahu a'lam.
#curhatuntukpakgub


0 Comments