Bahasa arab adalah bahasa makhluk bumi dan makhluk langit, bahsa
resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahasa Al-Qur’an, bahasa umat Islam,
bahasa nasional lebih dari 25 negara di daerah Timur Tengah. Bahasa arab
mempunyai proteksi Ilahi sehingga ia tidak memiliki masa kanak-kanak dan juga
masa renta.
Setiap peradaban dipengaruhi oleh berkembangnya sebuah bahasa, bahasa arablah yang telah mengawali muncul embrio peradaban 2 abad terakhir ini. Tantangan zaman yang telah mengharuskan bahasa arab mengambil lebih besar peran dalam menjawab persoalan, serta memberi solusi bagi setiap masalah yang muncul ditengah-tengah kemajuan zaman. Kelebihan dan keutamaan dari bahasa rab telah membuat banyak ilmuan meneliti dan menulis karya ilmiah tentang kelebihan yang dimiliki oleh bahasa tersebut.
Seperti yang telah ditulis oleh Philip K. Hitti dalam bukunya yang fenomenal, History of The Arabs (1973), mengatakan bahwa pada Abad Pertengahan, selama ratusan tahun bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progresif di seluruh wilayah dunia yang beradab. Antara abad ke-9 dan ke-12, semakin banyak karya filsafat, kedokteran, sejarah, agama, astronomi, dan geografi ditulis dalam bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. Secara historial, memang bahasa Arab itu lebih unggul dibanding dengan bahasa lainnya. Bahasa Arab mempunyai rekaman sejarah yang bagus. Bahasa Arab mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki bahasa lain.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, banyak pendapat dan pengertian yang mengatakan bahwa “Bahasa Ilmu Pengetahuan adalah bahasa yang digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Dapat dipahami, dapat diterima, dan dapat memproduksi bahasa baru sendiri”.
“Bahasa Ilmu Pengetahuan adalah bahasa yang digunakan dalam
berbagai disiplin ilmu. Dapat dipahami, dapat diterima, dan dapat memproduksi
bahasa baru sendiri”
Dan ciri bahasa Ilmu Pengetahuan yaitu: jelas dan eksplanatif,
kaya akan kosa kata dan kamusnya, konsistensi, serta hemat dan efisien. Maka
dari itu, Bahasa Arab itu sudah sesuai dengan semua kategori tersebut.
Berikut ini ada beberapa faktor yang menjadikan bahasa Arab tetap eksis di dunia pendidikan dan dunia:
⦁ Faktor Al-Qur’an. Karena bahasa Arab adalah bahasa asli Al Qur’an yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad bersifat kekal sepanjang masa dan masih dibaca oleh umat Islam hingga sekarang.
⦁Kebudayaan Islam yang mendunia, menjadikan para penganutnya harus memahami pelajaran Al Qur’an yang berbahasa Arab. Seperti ibadah haji dan umrah yang dilaksanakan di negara Arab.
⦁ Adanya lembaga Bahasa Arab disetiap negara.
⦁ Adanya harakatuttarjamah (gerakan penerjemahan).
⦁ Bahasa Arab kaya dengan berbagai
isytiqaq/derivasinya (perubahan bentuk kata).
Sehingga, kosa kata bahasa Arab
sering digunakan oleh bahasa lainnya. Seperti juga bahasa Indonesia yang banyak
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa serapan.
Selain faktor yang telah disebutkan, sejak kebangkitan sastra arab pasca lahirnya Islam, ciri keinternasionalan bahasa Arab telah nampak. Salah satunya bahasa Arab merupakan bahasa demokratis, tanpa membedakan antara pemegang kekuasaan. Keluasan penyebaran wilayah arab mencakup beberapa bangsa yang berbeda. Semua bangsa tersebut menyatu ke dalam suatu kebudayaan yang beridentitas arab termasuk Pakistan, Afghanistan, Melayu, Indonesia, Nigeria, dan lain sebagainya. Akibatnya, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa terluas wilayah interlakatornya.
Lalu bagaimana bahasa arab bisa digunakan sebagai media berdzikir? Al-Qur’an adalah salah satu solusi yang bisa kita gunakan sebagai media tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an itu sendiri.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa
Arab, agar kamu memahaminya” ( Q.S Yusuf ayat: 2 )
Kata dzikir dalam bahasa arab sendiri memiliki banyak arti,
salah satunya adalah mengingat. Buah dari sebuah ingatan adalah pemahaman,
sehingga Imam As-Syafi’I Rahimahullah berkata, “Kandungan Al-Qur’an tidak akan
mungkin diketahui oleh orang yang tidak memahami kekayaan dan keluasan makna
yang terdapat dalam bahasa Arab.” Sebab bahasa Al-Qur’an hanya bisa dipahami
dengan mempergunakan kaedah kebahasaan yang dipergunakan Al-Qur’an. Dan bahasa
Al Qur’an, dalam hal ini adalah bahasa Arab.
Zaman kebebasan berpikir sudah muncul sejak zaman Yunani kuno, dan puncak dari kebebasan tersebut muncullah berbagai penemuan-penemuan terbaru yang selaras dengan manusia yang hidup pada zaman tersebut.
Puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani ‘Abbâsiyah. Sejarah mencatat bahwa salah satu faktor penting keberhasilan pengembangan peradaban saat itu adalah karena berkembangnya gerakan penerjemahan (arabisasi) yang dimotori oleh elit penguasa, yaitu Hârun al-Rasyı̂d (786-809 M) dan al-Makmun (786-833 M). Gerakan penerjemahan itu disosialisasikan dengan ditunjang oleh adanya pusat riset dan pendidikan seperti Bait al-Hikmah dan Dâr al-Hikmah. Penerjemahan karya-karya asing tidak terbatas pada ilmu-ilmu dasar, filsafat Yunani, melainkan juga mencakup matematika, astronomi, fisika, geometeri, optika, musik, dan kedokteran yang berasal dari bahasa Suryani, Persia dan India. Gerakan penerjemahan karya-karya ilmiah berbahasa asing ke dalam bahasa Arab tersebut, selain mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga berpengaruh besar terhadap wacana keilmuan Islam, baik ilmu-ilmu tradisional maupun ilmu-ilmu rasional, sehingga umat Islam tidak hanya bertindak sebagai pengalih ilmu tetapi juga sebagai penyusun, pengembang, dan pembangun berbagai disiplin ilmu pengetahuan baru. Dalam konteks ini, setidaknya ada tiga tahapan perkembangan peradaban Islam.
Pertama, munculnya gerakan penerjemahan dan pemahaman berbagai karya asing ke dalam bahasa Arab.
Kedua, implikasi dari gerakan ini, adalah lahirnya fase kreasi ilmu (marhalah al-ibdâʻ al-ʻilmî). Bangsa Arab (Muslim) tidak lagi sekadar menerjemahkan tetapi juga memproduksi: menulis dan mengembangkan ilmu melalui berbagai penelitian dan pengembangan.
Ketiga, berkembangnya fase inovasi dan aplikasi ilmu pengetahuan (marhalah al-ibtikâr wa al tathbîq al-ʻilmî) sehingga melahirkan kemajuan teknologi dan karya-karya seni dan budaya. Ilmu dalam Islam ditransformasikan dan dikontekstualisasikan dengan kehidupan nyata. Semua tahapan dan fase perkembangan itu tidak terlepas dari peran bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan teknologi.
Ketika peradaban Islam di Spanyol dan Sicilia mengalami kemajuan, terutama di bawah pengaruh Ibn Rusyd (1126-1198 M), Barat masih terlelap dalam kegelapan ilmu. Setelah menyadari ketertidurannya, Barat lalu bangkit, kemudian melakukan gerakan penerjemahan seperti pernah dilakukan oleh umat Islam. Pengaruh Averoisme di Barat ternyata membawa mereka bangkit dari ketertinggalannya, sehingga mereka berhasil mencapai renaisance (tanwîr wa nahdhah), dengan revolusi industri sebagai titik awalnya. Demikian pula restorasi dan reformasi di Jepang setelah kalah dalam Perang Dunia II juga dimulai dengan gerakan penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya ilmuwan Barat dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang. Jadi, penerjemahan, baik sebagai ilmu maupun praktik atau profesi, mempunyai kontribusi yang besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peradaban umat manusia sepanjang sejarah.
Peradaban Islam Indonesia modern, kalau boleh disebut seperti itu, tampaknya
belum melalui tahapan perkembangan dan pengembangan ilmu yang pernah dilalui
oleh umat Islam di masa lalu ketika hendak mencapai puncak kejayaannya. Setelah
Bagdad jatuh pada tahun 1258 M akibat dihancurkan oleh tentara Mongol, dan
dunia Islam mengalami kemunduran, posisi bahasa Arab pun mengalami pergeseran
dari bahasa akademik-ilmiah menjadi bahasa yang cenderung lebih bernuansa
religius (bahasa agama, bahasa spritual).
Karya-karya intelektual dalam berbagai bidang tidak begitu banyak lagi ditemukan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab seakan menjadi “loyo” karena ketidakberdayaan politik dan ekonomi umat Islam vis a vis hegemoni Barat yang maju secara sains dan ekonomi. Perhatian umat Islam pada saat itu cenderung ditujukan kepada perebutan kekuasaan di satu pihak, dan di pihak lain, sebagian cenderung memilih lelaku sufistik atau “’asyîq-maÊ»syûq” bertarekat, atau lebih mementingkan urusan ukhrawi dengan “berdzikir” daripada mengembangkan ilmu pengatahuan dan peradaban.
Karya-karya intelektual dalam berbagai bidang tidak begitu banyak lagi ditemukan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab seakan menjadi “loyo” karena ketidakberdayaan politik dan ekonomi umat Islam vis a vis hegemoni Barat yang maju secara sains dan ekonomi. Perhatian umat Islam pada saat itu cenderung ditujukan kepada perebutan kekuasaan di satu pihak, dan di pihak lain, sebagian cenderung memilih lelaku sufistik atau “’asyîq-maÊ»syûq” bertarekat, atau lebih mementingkan urusan ukhrawi dengan “berdzikir” daripada mengembangkan ilmu pengatahuan dan peradaban.
Meskipun demikian, menarik dicatat bahwa dalam abad ke-18 dan 19, beberapa ulama Jawi, seperti Syekh Nawawi al- Bantani, Syekh Mahfuzh al-Tirmasi, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Syamsuddin al-Sumatrani dan sebagainya, yang bermukim di Haramayn (Mekkah dan Madinah), termasuk KH. Hasyim AsyÊ»ari, banyak menelurkan karya-karya bermutu yang ditulis dalam bahasa Arab. Setelah masa “keemasan ulama Jawi” tersebut, karya-karya ulama Indonesia yang ditulis dalam bahasa Arab mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa aktualisasi peran bahasa Arab dalam pengembangan ilmu dan peradaban perlu direvitalisasi dan dikembangkan di era modern ini.
Akan tetapi tidak mustahil bahasa Arab akan tetap menjadi bahasa umat Islam yang memungkinkan “dilahirkan kembali” peradaban Islam modern. Tentu saja, kita harus berjuang sekuat tenaga untuk melahirkannya. Islam mempunyai potensi dan sumber daya nilai yang luar biasa unggul untuk mewujudkan peradaban dimaksud. Jika dibandingkan dangan peradaban Barat yang sekuler dan materialistik, peradaban Islam mempunyai beberapa karakteristik yang perlu dijadikan sebagai visi, misi, orientasi, dan aktualisasi pengembangan sains dan teknologi Islami ke depan. Karakteristik peradaban dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, peradaban Islam itu bersifat rabbânî, bersumber dari dan bermuara kepada tata nilai ketuhanan. Sumber utamanya adalah wahyu, yaitu: al-Qur’an dan al Sunnah. Orientasi peradaban Islam juga mengarah kepada nilai-nilai transendental, tidak hanya berupa mewujudkan fî al-dunya hasanah, tetap juga fî al-âkhirati hasanah sekaligus waqinâ adzâba al-nâr (QS al-Baqarah [2]: 201). Peradaban Islam juga harus memposisikan kehidupan dunia sebagai instrumen atau sarana menuju kebahagiaan hidup di akhirat. Karena itu, pemikiran Islam tidak seharusnya berorientasi kekinian dan kedisinian semata, tetapi harus berorientasi jauh ke depan.
Allah Swt. berfirman:
Walalâkhiratu khairul laka
minal ûla.
Artinya:Orientasi kehidupan masa depan [akhirat] itu sungguh lebih baik daripada
orientasi masa kini [kehidupan dunia] (QS al-Dhuha [93]: 4).
Selain itu,
peradaban Islam dibangun di atas fondasi tauhid (ajaran tentang keesaan Allah,
kesatuan wujud, kesatuan penciptaan kesatuan kemanusiaan, kesatuan tujuan).
Kesatuan akidah inilah yang merupakan pemersatu (uniting factor) berbagai upaya
pemikiran menuju kemajuan dan kesejahteraan umat. Penelitian serius yang
dilakukan oleh pemikir Muslim dalam rangka mengungkap rahasia dan hukum-hukum
alam tidak lain karena didasari oleh semangat dedikasi atau pengabdian hanya
untuk memperoleh ridha (perkenan, restu) Allah Swt. dan sekaligus untuk
mengokoh iman yang ada dalam diri pemikir dan siapa saja yang membaca dan
memahami pemikirannya.
Kedua, peradaban Islam bersifat insâniyyah (kemanusiaan). Produk peradaban
Islam hendaknya berorientasi kepada proses humanisasi, pemanusiaan manusia,
dengan mengedepankan kemaslahatan manusia. Karena itu, peradaban Islam
memperioritaskan pemberlakuan rambu-rambu dan nilai-nilai moral yang luhur
dalam berinteraksi dengan kitab suci maupun dalam mengembangkan wacana
keilmuan. Peradaban Islam dalam berbagai bidang tidak berwujud teori-teori yang
tidak membumi, melainkan seharunya melahirkan tatanan kehidupan masyarakat yang
lebih beradab, adil, dan sejahtera. Dengan kata lain, peradaban Islam harus
mampu melayani kepentingan dan kemaslahatan manusia sesuai dengan norma-norma
syariah dan nilai-nilai akhlâq karîmah.
Ketiga, peradaban Islam itu bersifat syumûliyyah, komprehensif dan terpadu, meliputi segala bidang keilmuan, keterampilan, berorientasi dunia-akhirat. ,Pemikiran Islam tidak terbatas mengkaji masalah metafisika—seperti yang digeluti oleh filosof dan teolog—tetapi juga mencakup seluruh bidang dan aspek kehidupan manusia. Komprehensivitas peradaban Islam juga tidak terletak pada tema kajian tetapi juga meliputi sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan dalam pemikiran Islam tidak terbatas pada logika, rasio [rasionalisme] dan pengalaman empiris [empirisme] tetapi juga bersumber dari wahyu dan intuisi [gnostik, ma’rifah]. Demikian pula, metode yang digunakan dalam memproduksi pemikiran tidaklah semata-mata deduksi-induksi tetapi juga merupakan perpaduan antara ta‘aqquli-ta‘ammuli, (penalaran logis dan kontemplatif), bayânî (penjelasan elaboratif), burhânî (demonstratif), jadalî (dialektik) dan hadasî (intuitif).43 Pemikiran tidak cukup untuk memahami realitas metafisika dan fisika. Pengetahuan gnostik (ma‘rifah) atau pendekatan sufistik, seperti yang pernah ditempuh oleh al- Ghazzali (w. 1111) juga dapat mengantarkan dirinya menuju mukâsyafah (penyingkapan tabir Ilahi) dan ma‘rifatullâh.
Keempat, peradaban Islam itu bersifat al-hadafiyyah al-sâmiyah (bercita-cita dan bertujuan luhur). Pemikiran Islam tidak menganut paham “pemikiran untuk pemikiran atau ilmu untuk ilmu” tetapi dimaksudkan untuk merealisasikan cita-cita mulia dan luhur, yaitu: dedikasi manusia kepada Allah Swt. Karena itu, pemikiran Islam menghendaki aksi dan implementasi. Pemikiran, ilmu, gerakan, dan amal merupakan satu kesatuan menuju kebaikan dan kesalehan sosial. Keluhuran tujuan pemikiran Islam juga terletak pada kesadaran pemikirnya terhadap tuntutan realitas dan petunjuk syariah. Jadi, pemikiran Islam bukan semata-mata retorika wacana tanpa makna dan fakta. Hanya saja, ketika wacana pemikiran Islam itu hendak diaplikasikan dalam realitas empirik, visi dan cita-cita luhur pemikiran Islam terkadang mengalami disorientasi dan distorsi. Gerakan pemikiran “salafisme”, misalnya, yang mencoba mengembalikan persoalan umat kepada figur dan model ulama salaf dalam memahami dan mengamalkan Islam, justru “terjebak” dengan realitas historis masa lalu yang aktualisasinya tidak cukup aktual dan relevan dengan persoalan masa kini. Demikian pula, “Pemikiran Islam Liberal” yang disuarakan oleh intelektual muda melalui Jaringan Islam Liberal (JIL) terkesan agak kebablasan dalam memahami ajaran Islam, sehingga nilai-nilai dasar yang diperjuangkan lebih “kebarat-baratan” daripada keislaman.
Kelima, peradaban Islam bercirikan alwudhûh(kejelasan, evidensi). Peradaban Islam itu jelas tidak hanya dari segi sumber dan metode tetapi juga jelas dari segi orientasi, kerangka kerja dan implementasinya. Peradaban Islam tidak bertolak dari mitos dan khayalan. Pemikiran Islam bersumber dari dan berinteraksi dengan ajaran Tuhan untuk diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Peradaban Islam seharusnya juga jelas dimaksudkan untuk memenuhi fitrah dan kebutuhan manusia, dan bukan untuk mengabdi kepada rejim dan kekuasaan. Selain itu, peradaban Islam juga memiliki kejelasan asal-usul, akar-akar historis, dan peta kajian, sehingga mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Ketika bangsa ini memerlukan pemecahan terhadap persoalan “korupsi berjamaah”, pemikiran Islam seharusnya dapat merespons dengan solusi yang tidak hanya teori-teori akademik, tetapi juga dibarengi langkah-langkah konkret dalam upaya pemberantasannya.
Begitulah seharusnya bahasa Arab mampu berdedikasi dalam peran mengawali setiap peradaban dengan digunakannya bahasa tersebut sebagai media berdzikir.
CURRICULUM VITAE
Judul
Naskah : Bahasa Arab Sebagai Sarana BerdzikirDi Era Kebebasan Berpikir
Nama Penulis : Wafi Shiddiq
Tempat &Tanggal Lahir : Bireuen, 15 Juli 1999
Nama Sekolah : Matiq Isy Karima
Domisili : Jl. Solo-Tawangmangu Km.34, Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah 57791
Alamat Email : wafieshiddieq@gmail.com
Ponsel : 085288971405
Scientific Paperexperiences : ⦁ Mengisi Waktu Liburan (Juara I Cerpen:2007)
⦁ Konsep Kebun Buah Sebagai ketahanan Pangan (Juara I LKTI:2014)


0 Comments