30 JUZ BERSAMA DI NEGERI SAKURA


Berdakwah memang tidak mengenal waktu atau tempat, dimanapun kita harus siap untuk menyebarkan risalah Islam, Salah satunya adalah Al-Qur'an. Alhamdulillah Saya pada bulan Ramadhan tahun ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjejakkan kaki disalah satu sudut buminya, yang populer dengan sebutan Negeri Sakura untuk menyampaikan Islam dan Al-Qur'an. Sebenarnya jika dilihat dari sisi budaya dan istiadat masyarakat Jepang, mereka tentunya lebih maju beberapa langkah dari kita. Kebetulan saya ditugaskan untuk menjadi imam di beberapa tempat, jadi saya berkesempatan lebih besar untuk mengetahui seluk beluk masyarakat muslim yang bermukim di Jepang.

NAGOYA MOSQUE
Masjid Nagoya adalah tempat persinggahan pertama saya untuk membagi sedikit ilmu dan berbagi pengalaman bersama jama'ah. Di masjid ini shalat tarawih dilaksanakan 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Uniknya dalam kondisi jama'ah yang kelelahan  bekerja disiang hari dibulan  ramadhan, mereka masih berkesempatan pada malam harinya untuk shalat tarawih bersama imam yang membaca 1 juz permalam. Tentunya ini merupakan hal yang sangat luar biasa yang mampu dilakukan oleh muslim jepang, walaupun dalam kategori minoritas. Dalam kata lain, di penghujung Bulan Ramadhan, maka minimal jama’ah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam shalat. Saya merasa salut dengan para jama'ah, bagaimana mereka bisa tetap istiqamah menjaga shalat rawatib di masjid, padahal jarak tempuh antara masjid dan apartemen memakan waktu ½ jam, dan mereka bisa hadir dimasjid sebelum adzan berkumandang. Beda halnya dengan di Indonesia, atau negara mayoritas penduduk muslim lainnya. Di Jepang adzan tidak boleh dikumandangkan melalui speaker luar. Akan tetapi, mereka masih mampu hadir shalat tepat waktu, walaupun tidak mendengar suara adzan.

BAB AL-ISLAM GIFU MOSQUE
Disela-sela aktivitas  di Masjid Nagoya, saya diundang untuk mengimami tarawih di Nagoya University. Jamaahnya kebanyakan terdiri dari para mahasiswa yang sedang studi di jepang. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan mereka dikarenakan waktu yang terbatas. Namun, mereka sangat berharap dapat bersua kembali bersama para da'i Indonesia di suatu hari nanti. Setelah sepertiga Ramadhan berlalu, saya dijemput untuk mengimami di salah satu masjid yang terletak didaerah pedesaan tepatnya di Masjid Bab Al-Islam Gifu. Beda halnya dengan di Nagoya, di Gifu kita bisa lebih leluasa untuk mengajarkan Al-Qur'an, sesuai dengan tempatnya, yang memang didesain untuk menjadi Madrasah. Akan tetapi setelah 8 tahun berdiri, masjid ini tidak mampu mengayomi madrasah yang ada dilingkungannya dikarenakan kurangnya pengajar yang mumpuni dalam hal Islam maupun Al-Qur'an. Disini saya mengimami ½ juz permalam, memang lebih pendek dari masjid Nagoya dikarenakan kebanyakan jamaahnya anak-anak dan orang tua.

Siang di Jepang lebih panjang hingga mencapai 18 jam, biasanya  muslim Jepang memilih bergadang dikarenakan dekatnya waktu sahur. Berpuasa bagi seorang muslim yang berada di negara  minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Bagaimana mereka harus senantiasa menjaga pandangannya di siang hari dengan cuaca yang sangat panas, mencari taman-taman untuk melaksanakan shalat, tetap berpuasa ketika teman sekantor makan siang, tetap berpuasa walaupun menjadi koki di sebuah restoran, tetap berpuasa walaupun bekerja sebagai kuli bangunan, begitu banyak godaan yang harus mereka hadapi.

Banyak cerita yang dapat dibagikan dalam perjalanan sebulan saya ini, salah satunya adalah ifthar jama’i (buka puasa bersama) yang setiap hari dilaksanakan di masjid-masjid. Keunikan bisa kita rasakan ketika setiap muslim dari berbagai negara menyiapkan makanan buka puasa dengan cara yang berbeda-beda, sehingga kita bisa mencicipi hidangan dari berbagai negara. Seperti nasi biryani, pakuru dan sweet rice. Hal yang menarik lainnya adalah banyaknya penduduk asli Jepang yang penasaran terhadap syari'at puasa, sehingga Islamic Center banyak dikunjungi oleh nonmuslim untuk bertanya tentang Islam, kebanyakan dari mereka adalah para siswa/wi  setingkat SMA Jepang. Melihat fenomena tersebut, seakan-akan masyarakat Jepang mengatakan “Kenapa kami baru sekarang mengenal Islam?”.

Demikianlah risalah ini sangat dibutuhkan oleh banyak orang di luar sana. Banyak harapan penduduk muslim Jepang agar lebih leluasa beribadah, semoga adzan bisa mengalun di langit Jepang sebagaimana mestinya suara tersebut mengalun syahdu di belahan bumi lainnya.

“Kami butuh kalian wahai pemuda muslim Indonesia”, kata salah seorang jama'ah Jepang. Kenapa harus Indonesia? Bukankah negeri muslim lainnya sangat banyak? "Kalian memiliki banyak keutamaan. Kalian menerima Islam dengan tersenyum tanpa kilatan pedang, sedangkan bangsa selain kalian menerimanya dengan kilatan pedang. Kalian lebih utama”. 
Saya sedikit terperangah ketika mendengar perkataan tersebut, semoga pemuda muslim Indonesia memang benar-benar menjadi bagian dari keutamaan tersebut.

____

Wafi Shiddiq, siswa aktif MA Isy Karima, dalam rangka pemenuhan undangan Imam Tarawih dalam program IULB 16-17. Melaporkan dari Nagoya, Jepang.




0 Comments