Berdakwah memang
tidak mengenal waktu atau tempat, dimanapun kita harus siap untuk menyebarkan
risalah Islam, Salah satunya adalah Al-Qur'an. Alhamdulillah Saya pada bulan Ramadhan
tahun ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjejakkan kaki disalah satu sudut
buminya, yang populer dengan sebutan Negeri Sakura untuk menyampaikan Islam dan
Al-Qur'an. Sebenarnya jika dilihat dari sisi budaya dan istiadat masyarakat
Jepang, mereka tentunya lebih maju beberapa langkah dari kita. Kebetulan saya
ditugaskan untuk menjadi imam di beberapa tempat, jadi saya berkesempatan lebih
besar untuk mengetahui seluk beluk masyarakat muslim yang bermukim di Jepang.
NAGOYA MOSQUE
Masjid Nagoya adalah
tempat persinggahan pertama saya untuk membagi sedikit ilmu dan berbagi
pengalaman bersama jama'ah. Di masjid ini shalat tarawih dilaksanakan 8 rakaat
ditambah 3 rakaat witir. Uniknya dalam kondisi jama'ah yang kelelahan
bekerja disiang hari dibulan ramadhan, mereka masih berkesempatan pada
malam harinya untuk shalat tarawih bersama imam yang membaca 1 juz permalam.
Tentunya ini merupakan hal yang sangat luar biasa yang mampu dilakukan oleh
muslim jepang, walaupun dalam kategori minoritas. Dalam kata lain, di
penghujung Bulan Ramadhan, maka minimal jama’ah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an
sekali dalam shalat. Saya merasa salut dengan para jama'ah, bagaimana mereka
bisa tetap istiqamah menjaga shalat rawatib di masjid, padahal jarak tempuh
antara masjid dan apartemen memakan waktu ½ jam, dan mereka bisa hadir dimasjid
sebelum adzan berkumandang. Beda halnya dengan di Indonesia, atau negara mayoritas
penduduk muslim lainnya. Di Jepang adzan tidak boleh dikumandangkan melalui speaker
luar. Akan tetapi, mereka masih mampu hadir shalat tepat waktu, walaupun tidak
mendengar suara adzan.
BAB AL-ISLAM GIFU
MOSQUE
Disela-sela
aktivitas di Masjid Nagoya, saya diundang untuk mengimami tarawih di
Nagoya University. Jamaahnya kebanyakan terdiri dari para mahasiswa yang sedang
studi di jepang. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan
mereka dikarenakan waktu yang terbatas. Namun, mereka sangat berharap dapat
bersua kembali bersama para da'i Indonesia di suatu hari nanti. Setelah
sepertiga Ramadhan berlalu, saya dijemput untuk mengimami di salah satu masjid
yang terletak didaerah pedesaan tepatnya di Masjid Bab Al-Islam Gifu. Beda
halnya dengan di Nagoya, di Gifu kita bisa lebih leluasa untuk mengajarkan
Al-Qur'an, sesuai dengan tempatnya, yang memang didesain untuk menjadi
Madrasah. Akan tetapi setelah 8 tahun berdiri, masjid ini tidak mampu mengayomi
madrasah yang ada dilingkungannya dikarenakan kurangnya pengajar yang mumpuni
dalam hal Islam maupun Al-Qur'an. Disini saya mengimami ½ juz permalam, memang
lebih pendek dari masjid Nagoya dikarenakan kebanyakan jamaahnya anak-anak dan
orang tua.
Siang di Jepang lebih
panjang hingga mencapai 18 jam, biasanya muslim Jepang memilih bergadang
dikarenakan dekatnya waktu sahur. Berpuasa bagi seorang muslim yang berada di
negara minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Bagaimana
mereka harus senantiasa menjaga pandangannya di siang hari dengan cuaca yang
sangat panas, mencari taman-taman untuk melaksanakan shalat, tetap berpuasa
ketika teman sekantor makan siang, tetap berpuasa walaupun menjadi koki di sebuah
restoran, tetap berpuasa walaupun bekerja sebagai kuli bangunan, begitu banyak
godaan yang harus mereka hadapi.
Banyak cerita yang
dapat dibagikan dalam perjalanan sebulan saya ini, salah satunya adalah ifthar
jama’i (buka puasa bersama) yang setiap hari dilaksanakan di masjid-masjid.
Keunikan bisa kita rasakan ketika setiap muslim dari berbagai negara menyiapkan
makanan buka puasa dengan cara yang berbeda-beda, sehingga kita bisa mencicipi
hidangan dari berbagai negara. Seperti nasi biryani, pakuru dan sweet rice. Hal
yang menarik lainnya adalah banyaknya penduduk asli Jepang yang penasaran
terhadap syari'at puasa, sehingga Islamic Center banyak dikunjungi oleh
nonmuslim untuk bertanya tentang Islam, kebanyakan dari mereka adalah para
siswa/wi setingkat SMA Jepang. Melihat fenomena tersebut, seakan-akan
masyarakat Jepang mengatakan “Kenapa kami baru sekarang mengenal Islam?”.
Demikianlah risalah
ini sangat dibutuhkan oleh banyak orang di luar sana. Banyak harapan penduduk
muslim Jepang agar lebih leluasa beribadah, semoga adzan bisa mengalun di
langit Jepang sebagaimana mestinya suara tersebut mengalun syahdu di belahan
bumi lainnya.
Saya sedikit terperangah ketika mendengar perkataan tersebut, semoga pemuda muslim Indonesia memang benar-benar menjadi bagian dari keutamaan tersebut.
“Kami butuh kalian wahai pemuda muslim Indonesia”, kata salah seorang jama'ah Jepang. Kenapa harus Indonesia? Bukankah negeri muslim lainnya sangat banyak? "Kalian memiliki banyak keutamaan. Kalian menerima Islam dengan tersenyum tanpa kilatan pedang, sedangkan bangsa selain kalian menerimanya dengan kilatan pedang. Kalian lebih utama”.
____
Wafi Shiddiq, siswa
aktif MA Isy Karima, dalam rangka pemenuhan undangan Imam Tarawih dalam program
IULB 16-17. Melaporkan dari Nagoya, Jepang.

0 Comments